Bunga Yang Layu Diiringi Jleb

Dedaunan kering bertebaran memenuhi jalanan, biarkanlah ia kering seiring usia menggerogotinya. Tiada yang tahu seberapa sakitnya dedaunan kering itu diinjak-injak, tiada pula yang tahu seberapa sakitnya hatiku saat ini, tercabik-cabik.

Di tempat ini aku menjerit kesakitan dengan bunyi jleb. Ekses, hantaman cartel menyerang pas ke rongga hatiku. Kibaran bendera beterbangan ditiup oleh desau angin harapanku hanya semilir namun yang datang adalah topan.

Pilu aku rasa dengan sekujur tubuh kaku. Pernah kita lalui masa indah kala Zaman Soeharto, namun ketika Zaman Soeharto berakhir semuanya hilang seiring waktu. Kau buang rasa, aku pikul sakit. Apa ini? Ini tak lain dari sebuah prosa, prosa ‘ku ini mungkin hanyalah beberapa majas sederhana yang aku selipkan, dan tidak kau sukai, tapi coba kau lihat kalimat’ku ada makna yang tersimpan teruntukmu.

Kursi lapuk tua menghampiri seiring usia senja datang. Gaya gravitasi bumi pun tidak mampu menarik diriku ke dasar tanah, walau renta telah aku rasa, walau sakitnya hidup telah aku nikmati. Tega sangat dirimu meninggalkanku dengan erangan menyakitkan. Tercipta dari mana pula hatimu hingga tega?

“Mentari mungkin tidak akan pernah berhenti bersinar, begitu pula rasaku padamu,” ujarku seraya memandang ke arahnya yang menatap datar ke arahku.

“Andaikan bayu memberikan pesan padaku bahwa dirimu orang yang pernah mendonorkan ikhlas satu ginjalmu padaku, aku tidak akan pernah berkhianat padamu, sayangnya bayu hanya bergeming,”sahutnya lirih.

“Jangankan ginjal nyawaku pun akan aku berikan untukmu.”Aku tersenyum tipis menatapnya.

“Aku pernah menghabiskan masa mudaku untuk wanita lain dan kini akan aku habiskan masa tuaku bersamamu,”aku tertawa bahagia, 38 tahun aku menunggunya hingga usia senja menghampiri.

“Penantian ‘ku tak sia-sia, aku selalu menunggumu di ufuk senja berharap kau datang dengan bunga merah mekar lalu memberinya padaku.” Tubuhku gemetar hebat mengucapkan kalimat itu.

“Ini adalah bunga yang layu yang benihnya kau beri padaku kala masa pendekatan. Bunga ini layu seiring usia, namun benihnya aku tumbuhkan di hatiku agar ia mekar seiring berjalannya waktu.”Lanjutku.

Satu bulir kristal bening menetes,mengapa pula harus kristal bening yang mengalir? Ini adalah suatu kebahagian, masa tua ‘ku saat ini yang aku habiskan bersamanya. Tiada sajak untuk menggaritnya dengan pena namun awan putih datang dengan warna indahnya memberikan pancaran cahaya baru untukku dan dirinya.

38 tahun yang lalu, itulah awal kisah ini dimulai dengan rasa yang tidak pernah aku duga. Pertemuan yang indah, Tuhan mempertemukan kami dengan cara terbaiknya, dia mempertemukan kami pas kebahagian datang dalam hidupku, dan kebahagian itu adalah ketika aku bisa melihat senyum disudut bibirnya.

~♡♡♡~

Lensa kaca hitam terletak pas di depan mataku, dengan senyum gembira dan saling merangkul antara aku dan ketiga sahabatku berjalan riang menyusuri pantai kala senja menyapa, burung-burung beterbangan dengan riang, sama riangnya dengan hati kami berempat.

Nirwana dunia mulai terasa memasuki sukma memberikan kesan yang membahagiakan, dunia politik kala ini sedang memanas terlebih presiden saat ini adalah Soeharto yang membuat sengsara masyarakat Indonesia selama 32 tahun. Soeharto mengambil alih jabatan Seokarno pertama kalinya pada tahun 1968 kemudian dipilih lagi pada tahun 1973 lalu disusul tahun 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998, dipilih oleh MPR, hingga ia mengundur kan diri pada 21 Mei 1998.

Tindakan korupsi dengan jumlah yang besar terus saja terjadi membuat kerugian negara memuncak. Tidak puas melakukan korupsi besar-besar’ran, ketidakadilan HAM pun kerap terjadi di mana-mana kala masa pemerintahannya, salah satunya adalah peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984 sampai 1987.

Inilah diriku seorang wanita remaja yang baru beranjak dewasa aku tidak pernah peduli apa yang terjadi disekelilingku, itu karena aku tidak memahami tentang dunia politik saat itu yang sedang memanas, jadi jangan bertanya lebih dalam pa

Bunga Yang Layu Diiringi Bunyi Jleb

Dedaunan kering bertebaran memenuhi jalanan, biarkanlah ia kering seiring usia menggerogotinya. Tiada yang tahu seberapa sakitnya dedaunan kering itu diinjak-injak, tiada pula yang tahu seberapa sakitnya hatiku saat ini, tercabik-cabik.

Di tempat ini aku menjerit kesakitan dengan bunyi jleb. Ekses, hantaman cartel menyerang pas ke rongga hatiku. Kibaran bendera beterbangan ditiup oleh desau angin harapanku hanya semilir namun yang datang adalah topan.

Pilu aku rasa dengan sekujur tubuh kaku. Pernah kita lalui masa indah kala Zaman Soeharto, namun ketika Zaman Soeharto berakhir semuanya hilang seiring waktu. Kau buang rasa, aku pikul sakit. Apa ini? Ini tak lain dari sebuah prosa, prosa ‘ku ini mungkin hanyalah beberapa majas sederhana yang aku selipkan, dan tidak kau sukai, tapi coba kau lihat kalimat’ku ada makna yang tersimpan teruntukmu.

Kursi lapuk tua menghampiri seiring usia senja datang. Gaya gravitasi bumi pun tidak mampu menarik diriku ke dasar tanah, walau renta telah aku rasa, walau sakitnya hidup telah aku nikmati. Tega sangat dirimu meninggalkanku dengan erangan menyakitkan. Tercipta dari mana pula hatimu hingga tega?

“Mentari mungkin tidak akan pernah berhenti bersinar, begitu pula rasaku padamu,” ujarku seraya memandang ke arahnya yang menatap datar ke arahku.

“Andaikan bayu memberikan pesan padaku bahwa dirimu orang yang pernah mendonorkan ikhlas satu ginjalmu padaku, aku tidak akan pernah berkhianat padamu, sayangnya bayu hanya bergeming,”sahutnya lirih.

“Jangankan ginjal nyawaku pun akan aku berikan untukmu.”Aku tersenyum tipis menatapnya.

“Aku pernah menghabiskan masa mudaku untuk wanita lain dan kini akan aku habiskan masa tuaku bersamamu,”aku tertawa bahagia, 38 tahun aku menunggunya hingga usia senja menghampiri.

“Penantian ‘ku tak sia-sia, aku selalu menunggumu di ufuk senja berharap kau datang dengan bunga merah mekar lalu memberinya padaku.” Tubuhku gemetar hebat mengucapkan kalimat itu.

“Ini adalah bunga yang layu yang benihnya kau beri padaku kala masa pendekatan. Bunga ini layu seiring usia, namun benihnya aku tumbuhkan di hatiku agar ia mekar seiring berjalannya waktu.”Lanjutku.

Satu bulir kristal bening menetes,mengapa pula harus kristal bening yang mengalir? Ini adalah suatu kebahagian, masa tua ‘ku saat ini yang aku habiskan bersamanya. Tiada sajak untuk menggaritnya dengan pena namun awan putih datang dengan warna indahnya memberikan pancaran cahaya baru untukku dan dirinya.

38 tahun yang lalu, itulah awal kisah ini dimulai dengan rasa yang tidak pernah aku duga. Pertemuan yang indah, Tuhan mempertemukan kami dengan cara terbaiknya, dia mempertemukan kami pas kebahagian datang dalam hidupku, dan kebahagian itu adalah ketika aku bisa melihat senyum disudut bibirnya.

~♡♡♡~

Lensa kaca hitam terletak pas di depan mataku, dengan senyum gembira dan saling merangkul antara aku dan ketiga sahabatku berjalan riang menyusuri pantai kala senja menyapa, burung-burung beterbangan dengan riang, sama riangnya dengan hati kami berempat.

Nirwana dunia mulai terasa memasuki sukma memberikan kesan yang membahagiakan, dunia politik kala ini sedang memanas terlebih presiden saat ini adalah Soeharto yang membuat sengsara masyarakat Indonesia selama 32 tahun. Soeharto mengambil alih jabatan Seokarno pertama kalinya pada tahun 1968 kemudian dipilih lagi pada tahun 1973 lalu disusul tahun 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998, dipilih oleh MPR, hingga ia mengundur kan diri pada 21 Mei 1998.

Tindakan korupsi dengan jumlah yang besar terus saja terjadi membuat kerugian negara memuncak. Tidak puas melakukan korupsi besar-besar’ran, ketidakadilan HAM pun kerap terjadi di mana-mana kala masa pemerintahannya, salah satunya adalah peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984 sampai 1987.

Inilah diriku seorang wanita remaja yang baru beranjak dewasa aku tidak pernah peduli apa yang terjadi disekelilingku, itu karena aku tidak memahami tentang dunia politik saat itu yang sedang memanas, jadi jangan bertanya lebih dalam padaku tentang dunia politik karena aku sendiri tidak paham, ini hanya aku selipkan untuk melengkapi kisah ini.

Sikap masa bodoku ini aku lakukan karena aku tidak merasakan bagaimana sengsaranya masyarakat golongan bawah, bagaimana mereka menjalankan kehidupan yang menyakitkan pada masa era itu karena aku sendiri pun berasal dari keluarga yang terhormat yang jabatannya cukup disegani masyarakat golongan bawah, ayahku seorang TNI Angkatan Darat.

~♡♡♡~

Bunyi kicauan burung beterbangan memenuhi suasana senja kala ini, disetiap sekolah masih main fisik untuk kesalahan kecil yang dilakukan, dari zaman dulu hingga kini Indonesia sudah cukup hancur, zaman dulu penjajahan terjadi,pelanggaran Ham, ketidakadilan hukum, ibaratnya pemerintah lebih berkuasa dari masyarakat golongan lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa selalu menjadi korban dari kerakusan para pemerintah.

Hm! Andaikan zaman itu ada handhpone, kami pasti sudah foto selvi seperti yang kerap dilakukan kids zaman now. Sayangnya pada zaman ini hanya sedikit saja yang memiliki handphone dan aku salah satunya telepon selulerku dibeli di Amerika, generasi kedua.

Selendang yang aku kenangkan beterbangan ditiup desau angin, kini aku dan keempat sahabatku memandang keberbagai arah mata angin, di sini fatamorgana kami melayang berharap mendapatkan ilham. Tanpa aku sadari selendangku kini terbang terbawa angin, terlepas dari lingkaran leherku.

Aku kejar berharap akan aku dapati. Selendangku terbang ke arah seorang pemuda, aku belum bisa melihat jelas seperti apa raut wajahnya karena seluruh wajahnya tertutup oleh kain selendangku. Begitu selendangnya dibuka, aku mampu melihat pancaran kebahagian yang mempesona dibalik wajahnya.

“Hey, ini punyamu?” Dia tersenyum renyah menatapku, langkah kakinya yang berjalan pelan ke arahku membuat jantungku merasakan sensasi-sensasi ngilu.

“Ah iya itu punyaku, tadi dia terbang, ambil aja untuk kamu,”sahutku sekenanya karena grogi. Dia tertawa menggeleng, aku sangat merasa gugup melihat tawaannya, wajahku kini pasti bersemu merah.

“Ha-ha-ha gimana aku bisa ambil ini kan untuk perempuan masah cowok pakai selendan sih.” Dia membuat gaya seperti waria, kini aku tertawa rasa gugup’ku sudah mulai hilang. Tanpa aku sadari, kini ia sudah berada di hadapan’ku senyum ramahnya terlihat sangat jelas, tatapan lembut dari sorot matanya, aku tidak mengerti mengapa aku begitu merasakan sesuatu yang berbeda kepadanya, apa karena senyum ramahnya?

“Hm! namamu siapa? Kita kenalan bah.”Dia mengulurkan tangannya, aku enggan menerima.

“Kamu orangnya pemalu ya? iya udah ini aku kasih permen.”Dia mengeluarkan permen dari saku kantongnya.

“Enggak mau juga, ini aku ada bunga.”Dia memberikan aku bunga plastik yang biasanya ditempel di jepitan rambut wanita, aku menatap curiga ke arahnya.

“Dirimu memakai benda ini?” Tanyaku.

“Tidak.” Dia tertawa.

“Lalu?”

“Ini punya ibuku, lepas dari jepitan rambutnya dan terjatuh ke lantai, jadi aku ambil deh, dan akan aku berikan pada sesorang.” Tangkasnya.

“Untuk digombalin?” Dia mengedipkan bahu.

“Sudah berapa yang digombalin?” Lanjutku.

“Untuk hari ini baru kamu.”Dia tertawa.

“Huh.”

“Enggak percaya?” Dia mengangkat alisnya mendekatkan wajahnya padaku hingga aku mundur perlahan di buatnya.

“Ya udah, ayo ikut aku.”Aku tersentak ketika ia menarik lenganku, membawaku berlarian menyusuri pantai ini. Aku tidak tahu asal-usulnya dari keluarga mana pula dirinya berasal, aku tidak tahu. Yang aku tahu perasaan bahagiaku yang memuncak ketika ia mengajak’ku mengobrol banyak hal, bersenda gurau, memakan es cream, bermain sepeda, membantu petani menaburkan benih padi ketanah yang tanpa aku sadari malam telah tiba menunjukkan pukul 22:00, ayahku adalah seorang yang sangat keras, aku dilarang jalan berlama-lama apalagi sampai berlarut malam seperti ini.

“Aduh.”Aku duduk dengan rasa gelisah di pos tempat ronda malam biasanya.

Ini adalah hari pertemuan pertamaku dengannya, tetapi aku sudah mulai merasakan tatapan mataku ke arahnya berbeda dari tatapanku ke lawan jenis lainnya.

Aku lihati mata binarnya dan wajah riangnya. Malam ini hanya suara jangkrik yang terdengar, ada keinginan dalam diriku untuk bisa menghabiskan masa mudaku bersamanya dan menikmati hari tua bersamanya. Itu akan terasa sangat bahagia aku yakin itu, masa disaat pertemuan pertama saja sudah membahagiakan apalagi dimasa kami sudah menikmati hari bersama.

“Ayo aku antarkan pulan,” suaranya memecahkan keheningan, aku mengangguk perlahan, di teras depan rumah dengan cemas ibuku sudah menungguku.

“Ini rumahmu?” Tanyanya, aku mengangguk dia menatap kagum.

“Penampilanmu biasa saja tetapi rumahmu sangat luar biasa.” Dia tertawa renyah, aku hanya bisa mengangguk.

“Nak?” Ibuku berjalan menghampiri kami berdua ketika kami sudah berada di depan pagar. Dia mencium tangan ibuku sebagai tanda hormat.
“Hai selamat malam bu, kenalin calon menantu.” Aku tersentak mendengar ucapannya, menyikut pelan lengannya kemudian melotot, dia tertawa melihat tingkahku.

“Iya udah da-da-da sayang aku pergi dulu ya, besok kita jalan lagi,” ucapnya kemudian pergi berjalan dengan santai, aku sangat terperanjat dengan ucapannya, bisanya dia berani sekali di depan ibuku pula.

“Siapa dia?”Tanya ibuku.

“Eh anu bu.”

“Sudah tidur sana, lain kali kalau jalan jangan terlalu larut, untung ayahmu belum pulang kalau sudah bisa mati kamu.” Ibuku membelai pelan rambutku kemudian merangkul pundakku membawaku ke dalam kamar, aku adalah anak satu-satunya jadi wajar jika ibuku sangat menyayangiku.

“Ibu enggak marah?” Ibuku tersenyum hangat.

“Buat apa?” Tanyanya.

“Itu aku tadi-”

“Justru ibu kagum sama dia, dia berani sekali datang ke rumah kita mencium tangan ibu dan menyapa ibu, itu baru lelaki sejati, seorang pria itu jika memang serius jangan bersembunyi seperti banci melainkan dia berani menunjukkan ke jantanannya, lagi pula bukankah usiamu sudah cukup untuk memiliki pasangan. Ibu bahagia melihatmu pulang bersama seorang lelaki yang sopan dan berani seperti dia.”

~♡♡♡~

2 tahun aku bersamanya, tidak pernah aku sangka bahwa ternyata ayahku adalah kawan baik ayahnya yang membuat hubungan ini semakin mulus terjalin. Walau tetap saja hubungan ini pasti memiliki lika-liku kehidupan yang tidak kita ketahui apa pula maksudnya. Dia bilang dia ingin berlayar keseberang pulau untuk mengadu nasib, padahal ayahnya adalah seorang Dokter Spesialis Penyakit Jantung Dan Pembuluh Darah, dia bisa mengikuti jejak ayahnya atau dengan mudah dia bisa mencari pekerjaan lainnya di sini tidak perlu ia bersusah payah.

Kekagumanku akan dirinya terus memuncak terutama saat ia katakan bahwa ia tidak ingin bermanja yang mendapatkan segala sesuatu dengan mudah, dia ingin merasakan juga bagaimana susahnya mencari pakan. Sungguh berat bagiku untuk melepaskannya ke seberang pulau, terpisah jarak dan waktu itu sungguh tidak mudah bagiku. Tapi apa daya aku tidak bisa memaksanya untuk mengikuti kehendak’ku, siapa pula diriku di matanya? Hanya sebatas teman dekat belum ada ikatan yang terjalin. Dia memperbaiki rambutku yang terbang dibawa angin, menyisirnya pelan dengan jari-jemarinya, kemudian mengikat rambutku dengan lembut, suasana saat ini memang hening tetapi tidak hati kami setiap malam aku selalu menyampaikan pesan kalbuku teruntuknya, begitu pula dirinya, dia juga memberikan pesan cintanya melalui jarak yang tidak dekat. Rasa sayangku padanya pun tidak dapat aku kontrol, aku tidak bisa menahan perasaanku dan debaran jantungku yang hanya menginginkannya, jantungku selalu berbalas berdetak dengan irama jantungnya. Setiap bisikan kalimat cinta yang memasuki rongga telingaku selalu aku simpan didalam memori ingatanku secara khusus teruntuknya.

Janji masa depan yang indah, saat dia ucapkan padaku, akan aku ingat selalu hingga usia renta datang di masa depan. Pernah dia katakan bahwa ia akan membangun rumah berdekatan dengan sungai agar ia bisa berenang bersamaku kala malam menghampiri, itu adalah janji yang akan selalu aku ingat.

Masih akan aku selalu ingat di masa pertemuan pertama, dimana aku melihat senyumnya pertama kalinya dan ketika aku pergi menemuinya dengan senyum malu-malu di wajah manisku, rona merah wajahku itu hanya ada ketika aku bersamanya.

Kini di atas kepala kami terdapat beberapa Kunang-kunang yang menyinari, bukan hanya menyinari dirinya sendiri melainkan menyinari suasana saat ini walau redup yang terasa. Aku ingin bisa bersamanya dengan kunang-kunang indah, aku ingin pula ia selalu dekat denganku, aku tidak pernah ingin dia jauh, aku ingin selalu merasakan nikmatnya malam bersamanya ketika hubunganku dengannya sudah suci.

“Bersabarlah aku akan datang padamu membawakan bunga merah mekar, tetapi sekarang ambillah bunga ini tanamlah, dia akan tumbuh besar, jangan biarkan dia layu seiring usia menghampiri. Aku akan datang padamu dengan bunga yang aku janjikan.”Dia tersenyum hangat, aku mampu melihat ketulusan dalam dirinya.

“Berjanjilah bahwa hatimu akan selalu kau simpan teruntukku,” bisik’ku, dia mengangguk perlahan. Tak beberapa lama kapal besar datang untuk merengut raganya dariku, aku menengadahkan kepalaku dengan harapan langit mau menjadi saksi akan janjinya yang ia beri padaku.

2 tahun sudah aku bersamanya dan beberapa tahun ke depan aku akan menunggunya. Menunggu janji yang ia berikan padaku, hingga akhirnya dia kembali setelah 2 tahun lamanya aku menunggunya dalam sepi yang menghantui, aku bahagia kala mendengar kabar dia telah datang dengan kapal besar itu lagi.

Aku berlari pelan ke arah kapal itu menunggu ia keluar dengan senyum merekah disudut bibirku, aku berdandan semanis mungkin walaupun kesannya tetap natural. Ini adalah tempat dimana aku melepaskan ia pergi dan ini adalah tempat aku melihat raganya hadir kembali, wajahku kini mulai bersemu merah, membayangkan bunga merah mekar yang ia akan beri padaku. Bunga yang ia beri padaku kala itu telah aku tanam di halaman rumahku dan kini bunganya telah mekar dengan keindahan. Sama indahnya antara hubunganku dengan dirinya.

Senyumku seketika terhenti ketika aku melihat ia keluar dari kapal dengan menggandeng wanita keturunan Tionghoa bermata sipit yang sangat cantik, dia menatap ke arahku seolah-olah tidak mengenaliku, bagaimana mungkin? Aku adalah seseorang yang pernah ada dalam benaknya, yang pernah bermain layang-layang bersamanya kala sore hari dan kini, dia melewati ‘ku dengan pancaran kebahagian di matanya bersama dengan wanita itu.

Kini ia benar-benar telah lewat dihadapanku, aku membalikkan badanku, melihat ke arah punggung kedua insan itu, aku tersenyum getir, lelucon apa ini? Dia tidak mungkin melupakan aku, melupakan raut wajahku, melupakan senyumku, melupakan nada suaraku, melupakan bisikan cintanya, melupakan janjinya.

Kakiku serasa tidak mampu menopang tubuhku, aku terduduk dengan posisi berlutut. Aku menunggunya bukan sejam, dua jam melainkan 2 tahun, mungkin ini tidak terlalu lama, tetapi ini sangat menyakitkan setiap hari aku mendengar kabar burung yang mengatakan bahwa ia sudah menikah dengan wanita lain tetapi aku abaikan, aku tidak perduli kata orang aku hanya perduli akan dirinya dan semua perkataannya, aku percaya akan kesetiaannya tetapi kini.

Tubuhku terkulai lemah tiada yang tahu perasaan sakit ku ini, keluarga dirinya dan diriku dulu hanya tahu hubungan kami sebagai teman biasa, tidak lebih, itulah mengapa erangan menyakitkan ku tidak ada yang mendengarnya tapi aku yakin dia mendengarkannya, mendengarkan setiap teriakan hatiku.

Seminggu sudah aku merasakan gejolak ini dengan rasa tiada yang tahu, hantaman cartel menghantam dan itu dia sendiri yang menyerangku, awalnya dia lempar duri biasa setelah itu dia lempar anak panah untuk menusukku, tidak puas anak panah menyakitiku kini cartel yang ia lempar, tidak puas pula kini ia tusuk dengan ribuan paku, masih kurang pula rasa sakit yang dia berikan dia balut sembilu di sekujur tubuhku.

“Boja sakit, dia butuh donor ginjal, berikan ginjalmu jika kau mencintainya. Setelah itu pergi jauh dari hidupnya, karena dia bahagia bersamaku.” Suara wanita itu membuatku tersentak dari lamuanku, mataku sembab, rambutku berantakan, seperti biasanya aku menghabiskan hariku di dalam rumah, menangis setiap malam.

“Kami hanya meminta satu ginjalmu, berikan pada anakku nak.”Ibunya menatapku dengan tatapan menyakitkan, baru aku sadari kamarku kini sudah dipenuhi oleh keluarga Bojo dan keluargaku, tepat dihadapanku berdiri wanita itu. Aku tahu mengapa mereka menginginkan aku untuk menjadi pendonor ginjalnya, mereka pula sudah tahu alasanku terpuruk seperti ini adalah karena dirinya, aku terlalu larut dalam bayangan dirinya hingga aku tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit. Mereka pula mengira bahwa aku sedang mengalami patah hati karena cinta tak terbalas padahal dia dulu pernah membisikkan masa depan yang indah padaku.

“Akan aku berikan apa yang aku punya kepadanya.” Aku tersenyum getir, ibuku menatap pilu ke arahku dia tahu seperti apa irama jantungku yang serasa ngilu. Ayahku menepuk pundakku.

“Bagus nak, setelah itu kau harus melupakannya, jangan kau ganggu dia seperti wanita murahan. Karena dia sudah menikah. Ayah senang kamu bisa membantu anak kawan lama ayah.” Setelah ayahku mengatakan perkataanya mereka semua langsung meninggalkan aku sendiri diruang hampa ini.

Aku menelan ludah, wanita itu yang murahan yang merebut dia dariku bukan diriku yang murahan. Tidak ada yang peduli sakitku kini, malam ini aku mengeluarkan tetesan air yang mengalir dengan deras. Akan aku berikan ginjalku secara ikhlas lalu aku akan pergi jauh dari sini. Dia pasti akan bahagia dengan wanita itu dan aku, biarkanlah rasa ini akan aku bawa bersama benih bunga yang ia beri padaku, yang tertanam dihalaman rumahku. Aku bawa semuanya pergi, jiwaku, ragaku, hatinya dan kenangan paling terindah dalam hidupku, hingga selendang yang aku kenangkan kala pertemuan pertama, biarkan ragaku pergi bersama dengan hatiku, namun aku tinggalkan satu ginjal di dalam tubuhnya, jika jodoh maka suatu saat akan Tuhan pertemukan lagi diriku dengannya.

~♡♡♡~

2018 My Darling

Ini adalah malam akhir tahun 2017, malam dimana aku mampu melihat semburat wajahnya kembali setelah 38 tahun lalu, memang benar kata orang jika jodoh sejauh apapun dan selama apa pun pasti akan bertemu lagi dan dia datang padaku malam ini, membawakan bunga merah mekar ditangannya, dia menepati janjinya padaku, bunga yang ia beri padaku kala itu telah layu beberapa minggu yang lalu karena tak aku rawat lagi.

“Kala musim kemarau tiba aku rela kekurangan air asalkan bunga yang kau beri untuk aku tanam itu tidak layu dan tidak kekurangan air. Tapi aku sudah lelah merawat bunga itu tanpa hadirmu dalam hidupku,” suaraku serak. Dia terdiam, wanita yang bersamanya itu ternyata adalah wanita bayaran ayahnya sendiri karena ayahnya tidak setuju aku bersamanya sehingga ayahnya rela membayar wanita itu dengan hitungan jumlah rupiah yang tinggi, ketidak setujuan itu dikarenakan ayahnya dulu mencintai ibuku, namun ayahku sahabat ayahnya datang dan menodai ibuku hingga aku terlahir dan menjadi penghambat hubungan ibu dan ayahnya. seiring berjalannya waktu wanita itu meminta bayaran yang cukup tinggi hingga ayahnya tidak mampu membayar, yang menjadikan rahasia terbesar bertahun-tahun itu terbongkar.

“Kini kita yang akan merawatnya bersama.” Aku terdiam mendengar ucapannya.

“Kau tidak mau? Apa perlu aku berikan permen.”Aku tertawa.

–Tamat–

Author: Scrinsee Cks

Nama : Scrinsee Cks Tanggal Lahir : 07 Juli 2001 Tempat Tinggal : Kampung Jengan Danum, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, Pulau Kalimantan, Negara Indonesia. Cita-cita : Ibu rumah tangga yang baik Motivasi: Motivasiku adalah senyum dari seseorang yang akan mengisi sukmaku Pesan : Jadilah penulis yang bisa menginspirasi banyak orang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.