Gadis Berjilbab Merah Jambu Part 3 – Cerbung Karya Yunita El Farrisa

Wanita paruh baya itu berjalan anggun menghampiri lelaki yang tengah berkutat dengan tumpukan buku. tangannya terulur untuk menyentuk pundak lelaki itu.

” sibuk banget ya Ed?.”
spontan Edgar menolehkan kepalanya,
“mama. enggak juga sih, kenapa memangnya ma?.” tanya Edgar sembari menutup bukunya. mamanya memandang dengan penuh kecemasan.
” gini, umur kamu kan sudah…”
“30 tahun, jadi Edgar harus segera cari pendamping hidup.” potong Edgar.

mamanya hanya cengengesan, kemudian mencubit pipi putranya itu

“tuh kamu udah ngerti banget keinginan mama, jadi?.”
“jadi?.”

Mamanya melengos, lalu menghentakkan kakinya seperti anak kecil. Edgar hampir saja menyeburkan tawanya, tapi ia menahannya setengah mati hingga wajahnya memerah. mamanya ini benar-benar unik. tak lama kemudian setelah ia bisa menguasai mimik wajahnya, dihampiri mamanya yang hendak memegang daun pintu.

” Edgar akan penuhi keinginan mama.” terang Edgar dengan bersahaja.
“bener Ed?.” tanya mamanya memastikan. dan setelah Edgar menganggukkan kepala, mamanya segera memeluk dirinya dengan girang. maklum, mamanya takut anaknya terlambat menikah seperti adiknya. atau yang lebih mengerikan lagi Edgar ternyata suka dengan yang tampan juga. serem kan?.

“tapi Edgar mau nyari dulu ya ma, nyari yang pas dihati”. pintanya memelas
” mama udah ada calon buat kamu.” Edgar terhenyak dengan pernyataan mamanya, jadi mamanya sudah merencanakan semua ini.
” jadi setelah ini kamu siap-siap ya, selepas isya’ kita ke rumah calon kamu.”

mamanya kemudian keluar dari situ, namun sebelumnya mamanya melambai mesra kepada Edgar. Edgar hanya menanggapinya dengan senyuman masam, dan segera mempersiapkan diri. mematut diri didepan cermin, pikirannya melayang jauh ke hal- hal menyakitkan. bukan ia tak mau untuk mencari pendamping hidup, tapi ia belum bisa untuk membuka hatinya lagi.

” ciyee yang mau ketemu sama calon istri” ejek yani, Edgar hanya memutar bola matanya.” tapi nasibmu gini banget sih bang, dijodohin” tambahnya sambil tertawa lebar.
“hina terus abangmu yang tampan ini.”
” tampan tapi kok di jodohin” yani masih tertawa, dan malah terbahak-bahak.
Edgar lalu beranjak dari situ, enggan mendengarkan tawa hinaan adiknya. Di ruang tamu ia dapati mama dan papanya sudah berdandan rapi disitu. mengetahui putranya juga sudah siap, akhirnya mereka bergegas untuk berangkat.

~““““~

Edgar duduk dengan gelisah, pasalnya ia sudah bertemu dengan orang tua calonnya.

“owh jadi ini yang namanya nak Edgar” ucap seorang lelaki yang umurnya sudah kisaran kepala lima.
” iya ini putra kami Edgar pak Rohim, kami segera ingin menikahkannya soalnya anak kami ini sudah tua, takut nggak laku,” terang mama edgar

Edgar benar-benar tertohok dengan pernyataan barusan, kalau andaikan dia bukan mamanya ingin sekali ia mengajaknya ngopi maut.
ah masa sudah tua sih bu, emangnya nak Edgar ini umurnya berapa toh. kelihatannya masih muda kok, ganteng juga”. sanggah istri pak Rohim.

seketika Edgar tersenyum, di puji seperti itu membuat dirinya benar-benar melambung. biasanya seorang ibu itu memuji anaknya, lain dengan mamanya. mamanya malah menjelek-jelekkannya dihadapan orang lain, apalagi orang lain ini adalah calon mertuanya. Dasar mama durhaka. ucap Edgar dalam hati.

“memangnya berapa usia nak Edgar ini.?” tambah istri pak Rohim.
” 30 bu.” jawab Edgar mantap.
” sudah berumur ya ternyata nak Edgar ini, kalau ndak segera nikah nanti ya memang keburu tambah tua.”

Baru saja Edgar bahagia dipuji dengan kata ganteng, sekarang setelah mendapat kata tua untuk yang kedua kalinya rasanya benar-benar seperti terjatuh kemudian tertimpa tangga pula. Makhluk bernama perempuan ini memang sangat jahat. mendapat ucapan yang tak sesuai hatinya marah, disakiti menangis, apalagi pakai kekerasan pasti bakalan di laporin ke komnas perlindunga anak dan perempuan. kenapa lelaki selalu menjadi makhluk paling jahat dan selalu di salahkan?.

” kita lelaki, jangan mudah bawa perasaan seperti perempuan.” nasihat papanya dengan lirih.
” iya pa.” Edgar berkata dengan lirih pula namun dengan wajah yang memelas.
” oh iya, putri kalian mana?.” tanya mama Edgar.
” sebentar ya bu.” bu sari istri pak Rohim kemudian masuk ke dalam untuk memanggil putrinya

tak lama kemudian bu sari masuk kedalam, dan tak lama kemudian kembali dengan
diiringi seorang perempuan berjilbab merah jambu, tak lain itu adalah anak pak Rohim dan bu Sari. keduanya kemudian duduk berdampingan. Edgar semenjak tadi tak mengalihkan pandangannya dari gadis berjilbab merah jambu tersebut. Namun gadis itu hanya menundukkan kepalanya, sehingga Edgar belum bisa mengetahui wajah si gadis berjilbab merah jambu.

” ini putri kami bu ayu. nak sana salim sama mereka.” perintah bu sari kepada putrinya.
gadis itu pun segera menghampiri bu Ayu mama Edgar dan pak Bara. Akhirnya Edgar bisa melihat wajah dari si gadis berjilbab merah jambu.
“mbak Prisa.” sapa Edgar.
gadis berjilbab merah jambu itu pun segera mendongakkan wajahnya dan memandang Edgar.
“mas Edgar.” Prisa balik menyapa dengan mimik muka kaget
“loh jadi kalian udah saling kenal.” bu ayu menyahuti.

jadi wanita ini yang akan menjadi calon istrinya, wanita yang dalam dua kali pertemuan mereka selalu membuat Edgar dongkol.

” iya ma, edgar kenal sama dia.”
” kalau sudah saling kenal ya bagus dong, pernikahan kalian bisa disegerakan, tahun depan umur kamu sudah 31 loh Ed. ”

golok mana golok, Edgar benar- benar ingin mencincang mamanya. tak perlu di ingatkan pun Edgar sudah tahu kalau dia sudah berumur.

” iya benar nak Edgar, kalau terlalu tua nanti kasihan anaknya masih kecil tapi ayahnya sudah tua” tambah bu sari. Kalau andaikan jessica sudah keluar dari jeruji besi, ia ingin mengajaknya kopi darat. biar dia segera mati saja. Seusai perbincangan yang cukup lama antara dua keluarga itu , akhirnya mereka bersepakat jika Khitbah atau melamar akan di lakukan sebulan lagi.
” mbak prisa, saya boleh no handphone nya?.” tanya Edgar tiba-tiba
” ciye biar bisa teleponan ya.” ejek mamanya

Edgar seketika memberikan tatapan menghunus kepada mamanya

” becanda kali Ed mama,” terang mamanya dengan memelas.
“iya boleh kok mas.” jawab Prisa.

tak lama kemudian Edgar dan kedua orang tuanya pamit dari situ, tak lupa Edgar mencuim tangan kedua orang tua prisa, begitupula sebaliknya.

-Bersambung-

Jangan lupa komentarnya ya, dan share untuk mendukung karya kami.

 

Author: Admin

Sebuah ungkapan nada dari hati

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.