Gadis Berjilbab Merah Jambu Part 4


prisa masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di atas ranjangnya.

“Ting.” tiba-tiba ponselnya mendapat notifikasi WA.
ia pungut ponselnya yang berada di atas tumpukan buku di meja belajarnya, ternyata nomor baru

+6285-8972-XXX
Asslamu’alaikum, mohon maaf mengganggu. ini nomor Prisa kah?.

Prisa mengerutkan dahinya, ia sebenarnya paling malas dengan nomor yang tak dikenal. apalagi orang ini tidak mau menyebutkan namanya, segera saja ia meletakkan ponselnya kembali. Tapi ia kemudian mempertimbangkan kembali chat barusan. orang yang mengechatnya sopan, pakai salam lagi. akhirnya ia memutuskan untuk membalas chat tersebut

Prisa
wa’alaikumsalam, iya benar saya prisa. ini siapa ya?

send

belum sampai 30 detik chatnya sudah mendapat balasan

+6285-8972-XXX
calon teman hidupmu

Prisa benar-benar dongkol, siapa yang mengganggunya malam-malam begini. kenapa masih saja ada orang yang suka usil, ia tidak akan membalas chat itu.

Siang itu prisa dan fida baru saja selesai menonton film yang saat ini sedang ngehits dikalangan anak muda. film apalagi kalau bukan Dilan 1990. film yang sangat digemari oleh kalangan muda.
” filmnya Dilan bagus banget ya.”ungkap fida dengan berkali-kali memeluk Prisa. sedangkan yang dipeluk merasa risih.
“iya aku tahu filmnya bagus, tapi nggak gini juga kali, malu tahu dilihatin banyak orang.” sungut prisa, berusaha melepaskan pelukan fida. Dengan cengengesan fida kemudian melepaskan pelukannya pada prisa, tak luput mengedarkan pandangannya ke sekeliling. ternyata mereka memang sedang menjadi tontonan orang banyak. fida kembali memandang ke arah prisa sambil tersenyum hambar
” maaf ya pris.”prisa hanya menjawab dengan deheman.” cari makan yuk, laper nih aku, kamu pun pastinya juga laper.” tambah Fida.
keduanya pun mencari tempat makan yang berada didekat situ. memesan makanan kemudian mencari tempat duduk.
“kapan-kapan nonton lagi yuk pris, aku masih belum bisa move on nih dari si babang dilan. udah ganteng, romantis, idaman banget pokoknya,” fida bercerita dengan antusias
” hey jangan nonton mulu ih yang dipikirin, kita kan belum Heregritasi. mau nama kita nanti nggak tertulis di absen hmm?.”
dan yang terjadi selanjutnya, fida hanya memandang Prisa dengan tatapan malas.
” prisa mah nggak asyik.”
“udah nggak usah cemberut gitu deh, nanti cantiknya ilang .” ucap prisa mencoba menghibur.
” kenapa semalem chat dari Mas nggak dibales?.”
prisa terhenyak, kemudian menoleh ke arah suara itu tadi. dan ada seorang lelaki yang iku duduk disampingnya. Dia adalah Edgar pramana, dan Prisa pun menundukkan kepalanya.
“lho, mas ini yang pernah nolong kami waktu itu kan.” ucap fida dengan tangan yang menunjuk ke arah edgar.
” iya mbak.” jawab edgar sekenanya.
fida tak bisa menyembunyikan kekagumannya, terus saja dipandangi wajah edgar. lelaki ini tampan, hatinya bersuara. fida sudah menyusun rencana untuk ngecengin ini cowok ala-ala dilan. siapa tau jodoh, kan mayan bisa dipamerin di sosmed. biar sosmednya rame gara-gara dia foto dengan cowok ganteng.
” kok nggak jawab.? tanya edgar dengan menautkan ke dua alisnya.
” emang masnya nge chat saya.” bertanya pada prisa namun yang menjawab malah fida
Edgar memandang ke arah fida dengan bingung. benar- benar edan, kenapa dia bisa kenal cewek yang aneh- aneh begini sih.
“saya bertanya pada prisa,bukan sama mbak.” tegas edgar.
” mas kok kenal sama prisa, kenapa kenalnya nggak sama saya aja.?” fida bertanya dengan penuh percaya diri. sedangkan si pemeran utama malah semakin menundukkan wajahnya. Malu
” coba tanya sama takdir, kenapa kok bisa saya kenal sama prisa.? ” tutur edgar
” ya karena takdir.” fida menjawab sekenanya.
rasanya Edgar ingin membalik meja dihadapannya, dan melempar kursi yang ia duduku saat ini.
” mas Edgar emange semalem ngechat prisa.” tiba-tiba prisa menyahuti.
“iya, tapi nggak kamu bales.”
“yang mana.” tanya prisa.
” calon teman hidupmu”
fida terbelalak dengan apa yang diucapkan Edgar, apa maksud dari calon teman hidupmu?. rasa penasaran itu seolah memuncak dipikiran fida.
” jadi yang semalem itu chat dari mas Edgar.?” tanya Prisa dengan kaget.
” terus kamu kira dari siapa?.” edgar balik bertanya.
” prisa kira dari orang iseng.”tukas prisa
” aku memang orang yang bakal ngisengin kamu seumur hidup.”
blusssh. wajah Prisa memerah seketika, bahkan detak jantungnya pun bekerja dua kali lipat dari sebelumnya. lain Prisa lain fida, ia seolah-olah seperti kambing congek. atau bisa juga seperi obat nyamuk. sebenarnya mereka ini punya hubungan apa?, bukankah mereka kemaren-kemaren tidak saling mengenal. tapi sekarang mereka malah seperti sepasang kekasih. prisa juga tak pernah menceritakan apapun tentang lelaki ini kepadanya
“kalian ini sebenarnya punya hubungan apa sih? kok kelihatannya akrab banget.” tanya fida akhirnya karena penasaran
” prisa ini calon istri saya.?”
mendengar penuturan ini fida hanya bisa terbengong.
” kok bisa.?”
“kok bisa ya, saya sendiri juga nggak tahu mbak. coba tanya sama takdir.?”
mendapat jawaban seperti itu, fida hanya memandang edgar dengan dongkol. lelaki ini benar-benar rese.
“udah dong, massa dari tadi debat mulu sih.” prisa mencoba menengahi.
bersamaan dengan itu pesanan mereka datang
” nanti nomer aku kamu save ya.” pinta Edgar.
” iya mas.” prisa menjawab sambil menarik kedua sudut bibirnya.
“mas nggak makan.?
” kamu mau ngajakin aku makan sepiring.?”
blussh, lagi-lagi wajah Prisa memerah karena Edgar.
” ya enggak gitu juga mas.” terang prisa.
” aku udah selesai makan kok barusan, barengan kamu masuk ke sini aku udah selesai. aku duluan ya pris, ada kerjaan soalnya.” edgar berkata sambil berdiri dan hendak beranjak pergi.
” iya mas.” jawab prisa singkat
” saya nggak dipamitin juga.” fida berceletuk.
Edgar kemudian membalik badannya kembali
” say duluan ya..”
“fida.” sahut fida cepat
” fida.” ucap Edgar.
Edgar pun kemudian berjalan keluar dan menuju motornya, memakai helm full face. tak lupa ia memandang ke arah prisa. sedangkan prisa diam-diam juga mencuri pandang ke arah Edgar. tak berani jika ia memandang Edgar secara terang-terangan.
“kok kamu nggak ada cerita sama aku tentang ini.” tanya fida sambil tetap melahap makanannya.
“hehehe.” prisa hanya menjawab dengan kekehan.
” gitu banget ya kamu sama temen sendiri, hal kayak gini aku nggak di kasih tahu.” fida bersungut-sungut.
” anu, eh anu itu.” prisa mencoba menjelaskan, namun malah tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. ” aku sama mas edgar di jodohin.” akhirnya prisa bisa menjelaskannya.
” what the hell. dijodohin.” teriak fida, otomatis semua orang yang ada di tempat makan itu menoleh ke arah mereka berdua. tak lama kemudian orang-orang yang berada disitu kembali ke aktifitas mereka kembali.
“fid, bisa nggak sih nggak teriak-teriak gitu.” sengit prisa.
” maaf. udah kayak siti nurbaya aja di jodohin. tapi kalo kayak mas tadi itu sih aku mau.”
” jodoh kan nggak tau datangnya dari mana, bisa karena dapat sendiri bisa juga karena dijodohin.” terang prisa.
“iya sih.” fida menimpali ” itu kamu menikahnya kapan.?”
” masih belum ditentuin. tapi lamarannya beberapa minggu lagi. mungkin nentuin tanggal pernikahannya pas acara lamaran.”
” owh gitu, tiba-tiba ya ni anak. paling pendiem sendiri, tapi nikahnya duluan.”
prisa hanya tersenyum. ya dia memang paling pendiam diantara teman-temannya. di jaman yang seperti ini hanya dia saja yang tidak mempunyai pacar apalagi mantan pacar. selain itu dia juga tingkat kepercayaan dirinya rendah, mangkanya dia sering gugup dalam hal apapun. dan yang lebih spesifik lagi tentang prisa ini adalah, warna merah jambu. dia seperti tak pernah lepas dari warna merah jambu. jilbabnya, gamisnya, sendalnya semua berwarna merah jambu.
” Allah yang ngatur.” kata prisa
” siapa namanya.?”
” Edgar pramana.”
“kerja apa dia.?” fida sudah tak jauh beda dengan pewawancara.
” aku nggak tau.”
” ya elah masak calon sendiri gak tau.”
hening sesaat.
“pulang yuk pris, keburu hujan.” ajak fida, karena memang mendung begitu terlihat pekat.
” iya ayo, lagian aku juga lupa bawa jas hujan.” prisa menimpali, kemudian beranjak pergi dari situ.
ketika mereka berada dijalan yang masih jauh dari rumah, hujan turun dengan begitu derasnya. keduanya tetap nekat pulang, meskipun tak memakai jas hujan. jika mereka berteduh pastinya mereka tak akan pulang-pulang, karena kelihatannya hujan ini bakalan lama.
~““`~
Kepala Prisa masih terasa pening. Sudah tau ia mudah sakit, tpi dia nekat untuk menembus derasnya air hujan. Dia benar-benar menyesali perbuatannya tadi. Di tengah-tengah kerisauannya, tiba-tiba ponsenlya berdering. Tangannya kemudian meraba-raba untuk mencari ponselnya. Hap. Akhirnya pada dering ke enam ponsel itu diketemukan. Ia membaca nama yang tertera pada layar.
Mas Edgar
Calling
dengan segera ia menggeser tombol hijau
“Assalamu’alaikum pris ” sapa seseorang diseberang sana yang tak lain adalah Edgar.
“Waalaikum salam Mas” jawab prisa, tangannya menarik selimut sampai lehernya.
“Suara kamu kenapa pris kok serak gitu?”. Tanya Edgar dengan nada yang kentara sekali kalau khawatir.
“Aku gpp kok mas tenang aja, mas Edgar lagi dimana kok berisik banget gitu?”.
“Tenang gimana?, kamu kenapa?, ayo ngomong. Ini mas lagi berteduh disini hujannya deres banget”.
” gpp kok mas,tadi kan aku gak bawa jas hujan terus aku nekat nerobos hujan, gitu. Mas emangnya gak bawa jas hujan?”. prisa balik bertanya.
“keburu-buru tadi, jadinya lupa. Kamu ada obat gak dirumah?”.
“Gak ada”.
“Ya udah kalau gitu kamu istirahat aja biar agak mendingan. Aku tutup dulu ya, Assalamu’alaikum”.
“Iya, wa’alaikumsalam”. Dan klik sambungan terputus.
prisa agak kecewa, ternyata Edgar hanya menyuruhnya istirahat dan gak lebih. Memangnya dia mau seperti hal yang bagaimana coba?. ya memang benar sih dia calon suaminya, ya kalau jadi menikah kalau batal?. mengapa belum-belum ia sudah menaruh harapan terlalu tinggi kepada lelaki itu. Seharusnya ia sadar diri dia seperti apa, dia gadis biasa dan nggak secantik natasha willona apalagi zaskia adya meca. Memandangi langit-langit kamarnya, ia seperti melihat slide demi slide kisah nya dengan Edgar, mulai dari motornya yang ternyata hanya kehabisan bahan bakar, pertemuan di perpustakaan kota yang begitu aneh. hingga perjodohan yang ternyata calonnya adalah Edgar. Tanpa disadari perlahan matanya terpejam, menyisakan suara rintikan hujan dan aroma petrikor yang menyelusup melewati ventilasi kamarnya.
“Tok-tok-tok”. Suara ketukan pintu membangunkan Prisa, ia kemudian melihat ke arah pintu. Disana ia lihat ibunya berdiri dengan bungkusan kecil di tangan. kemudian ibunya menghampiri prisa yang tengah bergumul dengan selimutnya.
” nak, ini ada titipan dari Edgar.”ujar ibunya sembari memberikan bungkusan tersebut kepada prisa. Kemudian setelah itu ibunya keluar dari kamarnya. Bersamaan dengan itu ponsel nya mendapat notifikasi wa
“Ting”
Mas Edgar
segera diminum obatnya biar cepet sembuh
#calon teman hidupmu. Edgar Pramana.
Prisa pun membalas pesan itu
Prisa
terima kasib mas Edgar.
send
Mas Edgar
Kembali kasih Gadis berjilbab merah jambu
Dan seketika rasa sakitnya menghilang.
-Bersambung-

 

Author: Admin

Sebuah ungkapan nada dari hati

3 thoughts on “Gadis Berjilbab Merah Jambu Part 4

  1. Wah wah, ngebarin aja nih coba aku pnya calon suami bgtu ya heheh hmz kak nama orangnya itu tadi banyak yang menggunakan huruf kecil pertamanya nama orng bknnya hrus di tulis huruf besar ya pertamanya

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.