GORENG-1. GUE

Nama gue, Purnama. Nama lengkap gue, Purnama Larasati. Namun, sebaiknya kalian lupain aja nama lengkap gue. Kalau ada yang tanya, pura-pura aja belum baca. Karena gue biasa sebut nama gue, Purna GTW. Sedangkan teman-teman gue, mereka biasa panggil gue, Goreng.

Jujur aja, gue sebenarnya nggak tahu kenapa nama sebagus ‘Purnama’ yang sama-sama bagus kayak ‘Agnes Monica’ bisa diganti ‘Goreng.’ Awalnya, gue juga nggak ridho, tapi ya udahlah, asal mereka bahagia, aku mah apa atuh. Cuma rakyat kecil yang habis demo soal kenaikan harga BBM.

Titel ini dinobatkan pertama kali oleh Asa. Waktu gue protes, dia nyangkal, “Nggak usah sok suci deh, loe mau jadi purnama. Kebagusan. Loe itu cocoknya jadi Goreng. Lagian, kulit sama mulut loe juga mendukung.”

Ha? Seenaknya banget ganti nama anak orang, tapi nggak mau bikin tumpengan. Mentang-mentang kulit gue yang gosong sama mulut gue yang kayak ayam baru dicemplungin wajan, gitu?

Semenjak saat itu juga, gue turut nobatin Asa dengan title, ‘Panggang.’

Jangan tanya kenapa, pastinya gue nggak mau sendirian di atas perapian.

Purnama. Mungkin kalian akan ngerasa kalau gue ini tipikal cewek yang suka sama rembulan. Seperti Rizal dan Liana dalam novel ’Forget Me’ karya Kak Indah Purnama, ketika rindu sama-sama melihat Purnama jam delapan malam. Seakan-akan, ada si doi di sana.

Hello! Gue Purnama Larasati. Cewek tersowak dari ketujuh turunan keluarga gue. Ya kali, gue punya waktu buat mandangin rembulan di pertengahan bulan. Bahkan setelah gue baca novel ‘Menunggu’, karya Kak Indah Purnnama, gue sempet coba buat mandangin itu rembulan di atas. Penasaran sama kebiasaan si Faridha. Mungkin aja kan, gue bisa ngelihat Bang Jefri Nichol di atas sana. Bang Jejef yang lagi tersenyum terus nyapa gue, “Reng! Cepet bangun. Jangan ngekhayal. Mana sudi gue senyumin loe.” Lalu hati ini patah kembali.

Jujur aja, ya. Gue malah mikir kalau gue kurang kerjaan banget lihat bulan yang tetep sama. Bolong-bolong kayak muka gue sekarang. Lagipula, ini kisah nyata. Bukan kisah fiksi yang biasa Kak Indah Purnama buat. Ya, walau gue masih sebatas peraga (Ngenest.)

Gue duduk di bangku kelas sepuluh SMA Dharma Wijaya. Sekolah elite dengan seribu pelajar ajaib atau mungkin lebih mengarah ke gaib. Mungkin hampir sama kayak Harry Potter. Bedanya, Harry Potter berisi orang-orang genius, sedangkan sekolah gue isinya orang-orang sok serius.

Terakhir kali gue berada di peringkat 185 dari 188 pelajar di sekolah gue. Peringkat yang cukup membanggakan bagi gue. Cukup buat gue sombongin ke temen-temen gue. Setidaknya, gue masih di atas ketiga teman gue, yaitu: Yoyo, cowok yang memiliki keterbelakangan mental; Adit, cowok yang buta permanen; dan Rere yang udah nikah.

Makanan kesukaan gue adalah roti goreng. Apalagi yang ada taburan wijen di atasnya. Setiap kali gue ikut reunian SMP, ada banyak makanan yang temen-temen gue siapin. Biasanya, mereka pesan piza ramai-ramai. Akan tetapi, gue nggak pernah nyentuh sama sekali. Tentu saja mereka akan heran pada hal itu.

“Eh, Pur. Pizanya enak lho. Kok loe nggak ambil?” tanya temen gue waktu sadar, kalau gue justru sibuk mainin gadget.

“Makan aja,” jawab gue datar dengan pandangan tak lepas dari gadget.

”Loe nggak mau?” tanya temen gue lagi.

Gue pura-pura ngelirik sebentar. Terus beralih pandang dengan tatapan tak berminat.

“Gue udah kenyang,” jawab gue mengelus perut gue yang tiba-tiba aja bunyi. Ngebuat mata gue langsung membulat dan kehilangan kata-kata.

Dasar perut. Nggak bisa diajak kompromi. Akhirnya, temen gue ngetawain gue gara-gara si perut.

“Ealah. Kalau lapar ambil aja, Non. Emang liatin apaan sih?”

Temen gue langsung menjajarkan duduknya di samping gue. Terus dia ikut ngeliatin yang gue pandang dari tadi. Sejenak, dia diam seakan terkejut. Nggak lama, dia ketawa sekencang mungkin. Membuat temen-temen gue yang lainnya turut merhatiin dia.

“Haha! Jadi karena itu dari tadi loe nggak nyentuh piza itu?” ucap temen gue sambil nunjuk ke arah layar lima inci gue.

Dia masih melanjutkan tawanya lebih kencang. Membuat teman gue yang lainnya turut bertanya, “Emang Purna liatin apa?” “Ada apa?” “Kenapa?”

Suwek!

Teman gue langsung narik gadget gue. Gue nggak bisa apa-apa selain diam di tempat dan memaki di batin. Ingin rasanya gue ambil golok dan cincang-cincang itu anak codot. Karena teman gue, tawanya makin kenceng aja.

Gue nutup muka gue pakai tangan. Nggak tahu kenapa, rasa malu tiba-tiba aja melingkupi perasaan gue.

“Hey, teman-teman. Lihat nih, dari tadi Purna nggak ngambil piza gara-gara ngelihatin gambar ini, nih,” ucap temen gue dengan suara kenceng. Ngumar-ngumbar aib gue.

Teman-teman gue awalnya juga diem. Seakan gagal paham sama apa yang udah terjadi. Namun, tak lama mereka semua tertawa serentak. Itu gara-gara si anak codot nunjukin gambar roti goreng gue di hadapan temen-temen gue.

Kebiasaan gue memang aneh. Suka rindu sama roti goreng yang ada di rumah. Coba aja kalau yang gue lihat fotonya Michael Richard. Mereka nggak bakal ngetawain gue. Mereka pasti buru-buru ngomong, “Eh, itu siapa?” “Cakep bener?” “Yang pasti mustahil kalau gebetan loe.”

Ah, udahlah. Dasar norak. Kalau lihat yang cakep-cakep aja, langsung buru-buru.

Dan tolong abaikan paragraf di atas. Selain garing, juga aib memalukan. Kalau kurang renyah, sorry aja, gue manusia, bukan keripik ketela. Meski begitu, gue tetap jamin kalau bab selanjutkan akan bikin banyak orang ketawa.

Motto gue, “Tidak ada hari tanpa roti goring.” Ini kisah-kisah unfaedah gue—seorang adik yang pernah pacaran sama abangnya sendiri—dan orang-orang di sekitar gue.

 

-oOo-

Author: Indah Purnama

Binar perubah kata menjelmakan aksara. Wattpad: @purnapurnama

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.