(K)satria Bintang – Karya Tulis Deva Dwi Cahyo


Kau tahu kisah-kisah tentang cinta dua insan yang saling mencintai dan menyayangi satu sama lain? Indah dan romantis bukan?
Namun, bagaimana jika cinta kedua insan tersebut harus berpisah karena suatu hal yang tidak mereka inginkan?
Ini kisahku, tentang kisahku cintaku.

Namaku Bintang, Satria Bintang Marleydra. Kisah ini berawal saat aku masih duduk dikelas 1 SMA. Hari itu adalah awal kisah ini bermula, dimana aku bertabrakan dengannya.
“Duhh, hei siapa sih. Kalo jalan tuh hat…” tiba-tiba aku terdiam karena anak itu ternyata sedang menangis. “Eh, kamu kenapa nangis, Put?” tanyaku
“Gapapa,” jawabnya lalu berlari menjauh.
Entah apa yang terjadi dengannya, aku tidak tahu. Tapi setahuku ketika seorang wanita bilang gapapa itu artinya kenapa-napa. Apalagi sambil nangis kaya gitu. Ya itulah yang sedang terjadi oleh Iput, atau Puspita Cahya Artifa lengkapnya. Gadis kecil, pendek, kurus, tapi menurutku ia juga manis dan lumayan cantik.
Malam ini aku agak tidak tenang. Sejak bertabrakan dengan Iput, sampai pembelajaran dikelas dan akhirnya pulang pun Iput memasang wajah yang sangat muram, atau bisa dibilang sedih pake banget. Aku sebut itu wajah mendung. Entah kenapa aku sangat ingin tahu. Aku tidak ingin hal ini membuatku insomnia. Lebih baik aku chat dia, nanyain keadaannya.

“Iput..”
“Iya, kenapa?” jawabnya tidak ada 10 detik.
“Tadi kenapa nangis?”
“Oh, gapapa kok. Hehe”
“Gapapanya cewek itu artinya lagi kenapa-napa. Sekarang kamu harus tanggung jawab karena udah buat aku kepo. Kalo gak jawab, kita putus wkwk :v,” jawabanku sedikit bergurau.
“Wkwk, apasih. Emang tadi aku habis putus, Bintang. Tapi putusnya bukan sama kamu. Hhh”

Selepas chat dengan Iput, sekarang aku paham kalau Iput itu habis putus sama Iful. Tapi ceritanya itu si Iful yang mutusin Iput. Yahh, habis kepo malah jadi baper deh.

Kelas pagi ini kosong, entah kemana gurunya aku bener-bener gak peduli. Kelas lumayan ramai. Ada yang mainan kartu, gosip, nonton film di laptop lah, komplit. Tapi tidak dengan Iput. Ia duduk dibangkunya dengan tenang sambil membolak-balik selembar kertas berwarna biru. Entah apa isinya, yang kutahu ada banyak tulisan disitu.

“Hei, lagi ngapain sih. Kertas dibolak-balik kaya gorengan aja. Sedih ya sedih, tapi gak lama-lama juga kali!” kataku sambil duduk didepannya.
“Apasih, orang cuman mainan kertas. Siapa juga yang sedih!” jawabnya sambil menyembunyikan kertas tersebut.
“Ya kamu itu, peak!”
“Tahu dari mana aku sedih?”
“Lihat tuh,” sambil aku nunjuk diluar kaca. “Awannya mendung. Dia ikutan sedih gara-gara kamu terus-terusan sedih juga.”

Seketika Iput tersenyum manis. Iya, benar-benar manis. Semanis bunga kapas warna pink atau setangkai bunga mawar merah atau juga.. ah kenapa aku malah ngelamunin senyumnya Iput.
Aku langsung berbalik. Diam. Lalu berpikir. kenapa ada sesuatu yang bergetar dari tubuhku ini, selepas aku bisa membuat Iput tersenyum. Namun, yang kutahu aku merasa senang karena dapat membuat seseorang yang mendung menjadi cerah kembali.

Semenjak saat itu aku jadi sering ngobrol dengan Iput. Kami juga banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing. Dan membahas hal-hal yang kadang tidak ada penting namun menurut kami itu menyenangkan. Kami juga sering chat di WA. Apalagi sejak malam itu, ketika ia bilang makasih pada malam hari setelah kejadian di kelas tersebut.

Siang ini hujan begitu deras. Masih banyak murid yang belum pulang karena hujan, begitu pun aku. Mungkin juga Iput. Tapi entah dimana ia berada sekarang aku tidak tahu. Yang kutahu malah Iful sedang berjalan santai menikmati hujan dalam satu payung bersama dengan seorang wanita yang entah siapa aku pun tidak tahu, dan aku pun tidak memperdulikanya. Namun selepas mataku berpindah memandang, kulihat Iput berdiri diseberang sana. Dimana kulihat ia sedang menatap masam kearah Iful dan wanita itu. Aku pun bergegas berlari menuju Iput dengan cepat karena harus melintasi ribuan tetesan hujan yang membasahiku. Sesampai disana, inginku menyapa Iput, namun ternyata ia masih melamun melihat Iful dan tidak menyadari kehadiranku. Kuambil secarik kertas dari dalam tasku. Lalu kutulis sebuah kalimat.

Sedihnya udahan… kalo kaya gini terus kapan reda hujannya. Kertas itu aku sodorkan ke Iput yang semula melamun menjadin kembali ke dunianya lagi. Lalu Iput menoleh kearahku dengan jari berkata meminta pulpen. Lalu ia menulis.
Iyaa, ini aku senyum..wlekk:P. Kertas itu ia berikan kepadaku sambil menunjukkan senyum manis yang ia miliki. Aku pun membalasnya dengan senyuman pula.
“Udah, gausah diliatin terus orangnya. Toh udah gandeng sama orang lain dia. Mending liatin aku. Gak kasian apa kamu, dari tadi dikacangin,” kataku saat Iput kembali melihat Iful.
“Loh, masa? Maaf Bintang, aku bener-bener nggak tau. Wkwk,” jawab Iput dengan sedikit tertawa.
Sekitar 15 menit berlalu hujan mulai reda. Iput pun juga sudah menjadi cerah setelah mendung yang tadi. Aku pun senang karena dapat kembali membuatnya tersenyum, untuk kesekian kalinya.
“Pulang bareng yuk!” pintaku ke Iput.
“Eh, beneran nih?” tanyanya heran.
“Iya beneran… yaudah yok. Keburu nanti hujan lagi.”

Kami berboncengan dengan sepeda motorku. Kujalanakan motorku dengan agak pelan sambil mengobrol dan menikmati suasana selepas hujan. Hatiku merasa tentram, damai, bagaikan taman bunga yang mekar pada musimnya. Entah kenapa pelangi tidak muncul. Tapi aku percaya pelangi muncul dalam hatiku. And I think I love her.

“Put, apakah kau percaya dengan cinta? Kalau aku sih sekarang percaya,” tanyaku sedikit teriak disenggang perjalanan pulang kami.
“Entah.. Sepertinya aku sekarang sedang tidak begitu memikirkannya. Kau tahu, cintaku baru saja pergi, Bintang,” jawabnya juga sedikit teriak.

Aku terdiam beberapa saat untuk mencerna kalimat yang keluar dari mulut Iput dan mencoba mengolah kata untuk kuucapkan setelah itu. Lalu kujawab, “Kalau begitu bagaimana jika kamu mulai melupakannya dan mencoba untuk melihatku! Aku sekarang percaya akan cinta setelah bertemu denganmu. Aku cukup bahagia setelah beberapa kali menjadi ksatria yang membuatmu tersenyum. Dan aku ingin menjadi ksatriamu untuk lagi, lagi, dan lagi.”

“Oh..” jawabnya datar. Tapi aku mendengarnya sedikit tertawa.
“Udah gitu aja jawabnya?”
“Iyain aja deh, ahahah,” jawabnya dengan tertawa lepas. Kulihat dari kaca spion ternyata ia sedang

senyum-senyum sendiri. Entah apa yang sedang dipikirkannya yang kutahu aku senang mendengar jawaban singkat penuh maknanya tersebut. Melihat senyum manis yang muncul dari bibirnya itu, aku sungguh bahagia.

Sekitar 15 menit perjalanan, kami sampai didepan rumah Iput. Aku diajak Iput untuk mampir kerumahnya. Disana aku bertemu dengan ibunya Iput untuk yang pertama kalinya. Aku menyalami ibunya Iput dan melontarkan senyum terhadapnya.
“Oh, ini tho yang namanya Bintang? Duduk, Nak. Gausah malu-malu.” Kata ibunya Iput kepadaku. Aku sedikit bingung, kenapa ibunya Iput bisa tahu tentang aku. Pasti Iput sering membicarakanku kepada ibunya.

Diruang tamu yang lumayan besar dan rapi aku mengobrol dengan Iput diatas sebuah sofa warna pink. Ini untuk pertama kalinya aku bertamu disini. Dan untuk pertama kalinya aku sangat yakin akan menjalani sebuah hubungan yang mungkin akan bertahan untuk terus, terus, dan terus. Semoga saja.
Disela pembicaraan, Iput dipanggil masuk oleh ibunya. Aku melihat mereka sedang membicarakan sesuatu didalam sana. Entah itu apa aku tidak tahu, dan aku berpikir untuk segera pulang. Aku masuk kedalam dan berniat untuk berpamitan. Aku mengucapkan salam untuk berpamitan, namun entah mengapa Iput membalasnya dengan nada lemah dan muka sedikit murung. Aku tidak tahu ada apa dan kenapa dan aku pulang begitu saja.

Aku masih menunggu WA dari Iput. Aku gelisah semenjak pulang dari rumahnya. Ia kembali memasang wajah mendungnya saat itu. padahal sebelumnya begitu cerah, benar-benar taman bunga yang indah. Iput masih belum mengabariku juga. Akhirnya aku mencoba chat dia terlebih dahulu. Namun hasilnya pun nihil, Iput tidak membacanya. Hingga akhirnya aku tertidur.

Keesokan harinya Iput mendatangiku saat jam istirahat. Sudah kuduga wajahnya masih mendung, dan aku berpikir untuk menjadikannya cerah kembali. Namun belum sempat aku menyapanya ia mulai berbicara.

“Bintang aku minta maaf,” Kata-kata itu muncul begitu saja dari mulutnya dengan cepat dan tegas. Masih dengan wajah mendungnya. “Aku sudah cinta sama kamu sejak kamu membuatku tersenyum, dan aku baru menyadarinya kemarin. Dan kinii…” tukasnya sambil meneteskan air mata. Wajah yang awalnya mendung kini berubah menjadi hujan.

“Iput kamu kenapa? Minta maaf apa? Aku gak paham!” jawabku dengan penuh kebingungan.
“Aku senang sudah sedekat ini dengan kamu. Aku senang pernah dibuat senyum olehmu. Dan aku ingin selalu begitu.. untuk lagi, lagi dan lagi. Tapi ekspektasiku terlalu tinggi. Ini semua terpaksa harus berakhir,” jelas Iput dengan tangisan yang lebih deras.
“Kenapa? Kenapa harus berakhir? Bukankah kemarin kamu sudah setuju untuk mulai melihatku dan melupakan Iful?”

“Bukan karena Iful, Bintang..” jawabnya. “Aku mencintaimu, dan aku setuju dengan itu. Tapi tidak dengan orangtuaku. Ibuku bilang kepadaku untuk tidak mendekatimu lagi. Ia tidak menyetujui kedekatan kita. Meski aku menolak untuk kesekian kalinya, mereka tetap melarangku. Mereka lebih suka hubunganku ketika dengan Iful.”

“Tapi, kalian kan sudah tidak bersama lagi. Apakah orangtuamu tidak menyadarinya?”
”Kemarin Iful datang kerumahku bersama adik perempuannya sebelum kita datang. Iful meminta maaf kepada orangtuaku dan meminta kembali restu hubungannya denganku. Sungguh, aku tidak menginginkannya. Namun mereka benar-benar memaksa,” Jelas Iput.

Aku termenung dengan penjelasan Iput. Aku mencoba menahan sesak. Mengatur napas dan mulai melanjutkan, “Kamu yakin dengan keputusanmu?”
“Bukan begitu, tapi..” belum selesai menjawab, aku menyergah Iput.
“Baiklah, aku mengerti. Ini semua harus berakhir bukan?”
Iput pun terdiam sambil mengusap air matanya. Aku mencoba menguatkannya, menepuk bahunya. Tiba-tiba Iful datang, tidak jauh dari kami. Ia tidak mencoba mendekati kami. Mungkin Iful paham dengan keadaannya.

“Tuh, dicariin. Sebelum aku pergi setidaknya jangan menangis didepanku seperti ini. Tersenyumlah seperti saat aku membuatmu tersenyum. Aku sangat bahagia pernah mengenalmu,” pintaku sebelum aku meninggalkan Iput. “Aku pergi.. Daa,” salam perpisahanku sambil menjauh dari mereka.
Iput tersenyum dengan sedikit terpaksa sebelum aku meninggalkannya.

Lalu aku berbalik dan mulai meninggalkan mereka berdua. Sedikit aku melihat mereka dari kejauhan, namun tak lama aku melanjutkan jalanku. Oh tidak, ada sesuatu yang menetes dari mataku. Bodoh, aku menangis.

Aku tahu ini sakit. Kau juga tahu bukan, baru kemarin aku percaya dengan cinta, namun cinta sendiri tidak mengingikanku tuk merasakannya. Aku pikir aku akan selalu menjadi ksatria didalam hidupnya. Yang selalu ada sebagai pemicu senyumnya. Namun aku sadar, aku hanya indahnya pelangi yang menghiasi langit seusai hujan, dan aku akan menghilang tidak lama kemudian.
Aku hanya Satria Bintang, bukan Ksatria Bintang.

Karya Tulis : Deva Dwi Cahyo
Kontak :

Share Untuk Mendukung Karya Kami

Author:

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.